Jalan-jalan ke Thailand memang tidak akan ada habisnya. Luasnya daratan memang tidak akan habis dikunjungi, bahkan hanya seminggu. Sebulan saja tentu belum cukup kok, hahaha..

Kali ini Sobat Ranselio diajak jalan-jalan oleh YukMakan.com dan Tourism Authority of Thailand ke Hua Hin. Di mana tuh? kok seperti di China ya?

Nah, kan? Tentu belum banyak tahu wilayah Hua Hin di barat daya Bangkok atau sekitar tiga jam dari Bangkok. Menapaki jalur darat, Sobat Ranselio diajak menelusuri keindahannya.

Pertengahan Februari 2017, cuaca Thailand memang sedang panas-panasnya. Beruntung bus pariwisata yang kami gunakan memiliki tempat duduk nyaman. Bahkan perjalanan tiga jam tidak terasa karena hembusan angin pendingin udara sangat menyejukkan.

Tiba-tiba sang pemandu wisata Bapak Hengky membangunkan kami dari tidur. Sudah saatnya kami bangun untuk sekadar ke toilet dan mencari tempat makan di sebuah rest area.

Ternyata kami baru tiba di Khok Krabue di Samut Sakhon, salah satu provinsi di bagian tengah Thailand. Provinsi ini berbatasan dengan Provinsi Samut Songkhram, Ratchaburi, Nakhom Pathom, dan Bangkok.

Awalnya, sempat khawatir dengan rest area tersebut karena tampak seperti warung biasa namun tertata cukup rapi. Uniknya, untuk membeli makanan di sini, konsumen harus menukarkan uang dengan kupon.

Aku bingung karena uangku masih dalam pecahan 1.000 baht. Oleh penjaga disarankan tukar dengan nominal lebih kecil karena yang lain sudah menukar dengan nominal besar. Tampaknya penjaga warung tersebut sudah kehabisan nominal baht yang kecil.

Akhirnya aku meminjam 100 baht milik Caesar, blogger asal Surabaya. Sempat bingung pilih makanan di sini karena semua pakai bahasa Thailand. Paling kita hanya tunjuk menu makanan untuk mengetahui isi menu dan berapa harganya.

Beruntung lagi Caesar sudah mahir pelajaran dasar bahasa Thailand. Jadi kita tidak kebingungan mengetahui menu makanan tersebut.

“Anda dari mana? kok mahir berbahasa Thailand?” tanya penjual mie yang kebetulan kami memesan menunya.

“Indonesia,” jawab Caesar.

“Di mana itu,” tanya penjual mie lagi. Tampaknya penjual mie tersebut tidak mengetahui Indonesia.

“Jakarta,” jawab Caesar lagi. Namun penjual mie lagi-lagi kebingungan mengetahui lokasinya.

“Bali Bali,” ketus Caesar. Si penjual mie tampak tersenyum. Entah mengetahui lokasi Bali atau malah tambah bingung. Wkwkwk..

Akhirnya kami memesan sup mie yang berisi mie kuning, taoge, bakso daging dengan aneka bentuk dan daun cilantro yang makin membuat menu siang itu semakin wangi.

Semangkok mie segar ini dijual hanya Rp 16 ribu. Rasanya segar dan bikin kenyang. Foto: Ranselio
Semangkok mie segar ini dijual hanya Rp 16 ribu. Rasanya segar dan bikin kenyang. Foto: Ranselio

Semangkuk mie cukup ditebus 40 baht (sekitar Rp 16 ribu). Murah meriah untuk menu di kawasan wisata seperti di Thailand. Namun ternyata yang cukup mengagetkan, menu ini rasanya enak sekali.

Sengaja aku tidak menambahkan cabai, gula, garam atau perasa lainnya dalam makanan. Jadi aku benar-benar menikmati rasa original menu tersebut. Rasanya luar biasa. Segar dan mengenyangkan walau hanya makan semangkuk.

Saat menuju toilet, aku melihat penjual mangga. Uniknya, penjual membungkus mangga tersebut dalam plastik yang dikemas lucu. Aku pun tertarik membelinya.

Pengemasan mangga secara unik turut mendongkrak harga jual, termasuk yang dilakukan penjual mangga asal Thailand ini. Foto: Ranselio
Pengemasan mangga secara unik turut mendongkrak harga jual, termasuk yang dilakukan penjual mangga asal Thailand ini. Foto: Ranselio

Penjual mangga ini suami istri. Sang istri bagian melayani. Sang suami bagian mengupas dan memotong mangga. Kebetulan aku membeli sendiri mangga tersebut, tanpa ditemani Caesar.

Aku menanyakan dalam bahasa Inggris. Ternyata sebungkus mangga tersebut dijual 60 baht (sekitar Rp 24 ribu). Aku pun langsung menuju tempat meja makan, tempat menikmati sup mie tadi.

Namun belum sempat aku membuka bungkusan mangga tadi, aku dihampiri bapak yang ternyata menjual mangga tadi sambil memberikan uang koin 10 baht. Dia tanpa mengucap apapun, tapi hanya menangkupkan tangan sambil minta maaf dalam bahasa Thai. Aku hanya berkata khob khun khrap…

Ternyata masih ada orang jujur di tempat wisata sekelas Thailand. Bisa saja pasangan suami istri tadi tidak mengembalikan uangku. Toh, si istri tadi bilang menjual sebungkus mangga 60 baht. Tapi ternyata sang suami mendatangiku dan mengembalikan uang sisanya.

Mungkin uang 10 baht tidak ada gunanya bagi mereka. Namun kepercayaan pelanggan, terutama wisatawan akan selalu jadi kenangan. Begitulah keramahan dan kejujuran warga Thailand.

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
Ikan Bawal Colo-Colo ditambah sambal matah. Sumber foto: Ranselio
Kincir, Kuliner Indonesia Buka 24 Jam

Tidak banyak restoran Indonesia yang buka 24 jam, kecuali masakan Padang dan beberapa warung tegal (warteg). Di Kincir, semua masakan...

Close