Penyambutan di restoran Khun Khantoke Chiangmai, Thailand. Sumber foto: Dok pribadi
Penyambutan di restoran Khun Khantoke Chiangmai, Thailand. Sumber foto: Dok pribadi

Berlibur ke Chiangmai tak lengkap rasanya bila tak mengunjungi Khum Khantoke. Khum dalam bahasa Thailand berarti istana dan Khantoke berarti makanan khas utara.

Restoran ini tidak hanya sekadar rumah makan biasa tapi menyajikan kebudayaan khas Thailand, khususnya Chiangmai.

Saat memasuki halaman restoran, pengunjung akan disuguhkan minuman penyambut berupa thai tea. Di sini thai tea nya sangat segar, beda dengan di Indonesia yang sudah ditambah susu.

Di dekat meja penyambut tamu disuguhkan hiburan berupa tiga gadis yang mengerjakan hiasan buah semangka, membuat rangkaian krathong yang berupa daun pisang, bunga, lilin, dan uang untuk dilarung di sungai. Satu orang lagi memainkan alat seperti kecapi.

Sebelum memasuki area tempat makan, kita dipersilakan melepas alas kaki, baik sepatu atau sandal. Maklum tempat makannya berupa lesehan beratapkan langit. Hehehe…

Saya belum tahu nasibnya kalau hujan. Pasti santap makannya ditidiadakan atau pengunjung bisa memilih tempat yang ada atapnya.

Namun yang lebih seru di sini santap malam sambil menikmati pertunjukan di depan panggung. Pertunjukan berupa tari-tarian khas masyarakat Chiangmai dilakukan di panggung dan di tengah lokasi makan.

Soal makanan, menu pertama yang keluar yakni semangkuk kecil sup ayam dengan irisan wortel. Ini semacam appetizer agar mendorong rasa lapar.

Hidangan berikutnya berupa ketan yang disajikan dalam wadah cantik dan sepiring pisang goreng yang renyah ditaburi wijen.

Beras ketan Thailand memang tidak biasa. Bulirnya lebih besar. Memakan satu kepal saja rasanya langsung kenyang. Padahal ini belum masuk menu utama.

Urusan menu utama berupa bihun goreng, ayam kari, ayam goreng crispy, tahu goreng, sambal merah, lalapan dengan sambal hijau, krupuk kulit, hingga tumis semacam capcay. Ini ditaruh dalam wadah khusus dari kayu. Unik bentuknya.

Untuk nasinya akan disediakan terpisah berupa rantang besar. Kalau kurang, tinggal panggil pelayannya. Biasanya satu lesehan untuk empat atau enam orang. Atau bisa digabung sederet panjang bila datang berkelompok.

Sambil menikmati santapan, kita akan dihibur berupa tarian tradisional pertunjukan khas Chiangmai.

Nah, setelah pertunjukan selesai biasanya ada dua wanita cantik memakai pakaian khas Chiangmai (Hmong) mengunjungi tempat duduk kita dan seorang fotografer siap memotret.

Mereka menawarkan foto bersama dan foto akan langsung jadi beberapa menit. Satu foto dijual sekitar THB 100 atau sekitar Rp 40 ribuan.

Bagi yang tidak mau mengambil foto tidak masalah karena ini tidak pemaksaan.

Selesai makan dan mengambil sepatu atau sandal yang tadi dilepas akan disuguhkan aneka souvenir khas Chiangmai. Oleh-olehnya lucu.

Nah kalau ke Chiangmai, jangan lupa ke restoran ini ya. Btw, saya tidak menanyakan harga makanan di sini karena semua dibayarin bos. Hahaha..

Traveling kali ini dipersembahkan oleh Lion Air dan Thai Lion Air (Lion Air Group)

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
Kuburan massal dari korban tsunami di Aceh. Foto: Dokumen Didik Purwanto
Mengenang Kembali Jejak Tsunami Aceh

Tulisan ini merupakan Catatan Road to Aceh, 14-15 Oktober 2008 bersama PT Samsung Electronics Indonesia (SEIN). Empat tahun sudah Aceh diporak-porandakan...

Close