Jember adalah kota Baper. Entah sudah berapa juta orang yang jatuh hati pada kota ini. Kota yang entah bagaimana caranya membuat saya jatuh cinta padanya.

Empat tahun di Jember rasanya tak cukup memverifikasi mengapa saya begitu bahagia di kota ini. Meski tak se selow Solo dan tak se romantis Jogja, namun percaya atau tidak Jember punya cara sendiri untuk membuat orang yang berkunjung merasa memiliki Kota ini.

Setelah lelah menjelajah Jember, jangan khawatir Jember akan memberimu oleh-oleh yang tak akan pernah kalian dapatkan di kota manapun berupa Kenangan. Kenangan yang manis semanis suwar-suwir.

Empat tahun kuliah di Jember, tak sulit bagi saya untuk mencari kedamaian di Kota yang terkenal akan tembakau ini.

Nikmatnya makan mi apong di sudut pasar loak Gebang. Murahnya cilok Edy di tiap sudut Kampus. Enak nya minum Angsle Pasar Tanjung. Hangatnya wedang Cor di Perhutani. Serta bahagianya ngopi sambil memandang senja rubuh di Karimata.

Terlebih tebaran kedai kopi macam Cak Wang ditambah eksotisme penduduk Jember akan membuatmu lupa kalau kamu memang sedang ada di surga. Surga kecil dibawah telapak kaki Raung.

Tahun berlalu, Jember telah berlari meninggalkan ‘Djember’. Meski tak selalu sukses. Jembatan kejut ada di mana-mana yg kemudian direnovasi. Tentu jembatan itu dibuat untuk membuatmu terkejut.

Mal besar mulai gagah dibangun. Macet di mana-mana terutama di Jalan Jawa. Jalan di mana tempat bertemunya mahasiswa yang tak sengaja berjumpa untuk kemudian menjalin asmara.

Sebuah jembatan layang menggantung megah. Stadion megah di tepi sawah. Dan gumuk-gumuk yang dahulu indah yang kini telah rata dengan tanah.

Tinggal di Jember menguasai bahasa jawa tak menjamin untuk mudah bergaul. Kursus bahasa Madura dengan teman sekelas sangat dianjurkan.

Tapi di Jember, lagu Bahasa Osing lebih kekinian cong! Tak ada suasana seromantis makan diiringi lagu Kanggo rikonya Demi. Di sudut manapun kalian berada, lagu itu akan selalu ada.

Karena Kami Demi Mania!!! Kapanpun kalian berkunjung ke Jember, di bus, hingga kereta api lagu itu akan menemanimu, seakan Demi berbisik lirih ditelingamu.

 “Siji-Sijine mung riko”

 “Ning ati isun selawase”

 “Separuh rogo iki”

 “Yo ro mung Kanggo riko”

Lagu yang akan menghanyutkan hati siapapun yang mendengarnya. Lagu tergombal dan terbaper yang pernah saya dengar selama hidup di Jember!

Slogan “Jember Terbina” yang diproklamirkan awalnya sulit saya dapatkan dalam kenyataan. Ring road seakan sirkuit Assen.

Motor tak kuasa bergerak pelan (kecuali Lin D). Mereka biasanya mahasiswa pendatang, luar Jember. Bantah teman lama yang asli Jember.

Tak usah jauh-jauh ke sirkuit untuk merasakan sensasi balapan. Jalan di Jember adalah sirkuit yang belum diberi nama.

Empat tahun di Jember meninggalkan banyak kenangan. Kenangan ditinggal kereta api Sri Tanjung karena Lin D yang hanya berjalan maksimal 20 km/jam.

Atau melihat sepasang kekasih mengutarakan cinta di bawah jembatan, melihat teman seangkatan menabrak kambing fakultas yang bersalah karena ikut kuliah.

Menyaksikan para ABG kekinian dengan tongsis di tangan kanan ber-selfie ria di depan rektorat. Menikmati sunset indah berdua dengan mantan di Payangan.

Menikmati Bukit S J88 (Bukit di atas awan) di Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember). Foto: Totok Agung Prasetyo
Menikmati Bukit S J88 (Bukit di atas awan) di Desa Sucopangepok, Kecamatan Jelbuk, Kabupaten Jember). Foto: Totok Agung Prasetyo

Atau sekadar menikmati pergantian tahun di rembangan dan tentu kenangan kalian mahasiswa Universitas Jember (UNEJ) yang pacaran sambil makan lalapan di sepanjang Jalan Kalimantan.

Kini Jember telah mem-baper, bukan karena saksi kota kandasnya Dewi Persik dan Saiful Jamil atau bersatunya Anang dan Ashanty.

Tapi lebih dari itu, Jember adalah kota yang diciptakan Tuhan dari percikan kenangan dan guyuran cinta. Jadi kapanpun kalian berkunjung ke kota ini jangan terlalu bawa perasaan. Siapkan sapu tangan atau tisu dit angan. Siap-siaplah dibekap kenangan.

Please follow and like us:

One thought on “Jember Kota Baper”

  1. Salut, Salut, Salut ……
    Ternyata tulisanmu masih lebih baik daripada gambar bendera Australiamu bung Totok.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
Wat Phra That Doi Suthep, kuil emas di atas bukit Chiangmai. Sumber foto: Didik Purwanto
Kuil Emas Di Atas Bukit Chiangmai

Berkunjung ke Chiangmai juga tak lengkap bila belum naik ke atas bukit menikmati kuil berlapis emas. Kuil ini disebut Wat...

Close