Festival Shibazakura dengan latar belakang Gunung Fuji Jepang. Foto: HIS-Travel.co.id
Festival Shibazakura dengan latar belakang Gunung Fuji Jepang. Foto: HIS-Travel.co.id

Jepang sudah menjadi negara impian yang wajib aku kunjungi seumur hidup. Sejak kecil, aku sudah menyukai negara yang pernah menjajah Nusantara ini.

Meski belum pernah sama sekali ke sana, aku sudah mencatat dalam ingatan bahwa suatu saat aku akan ke sana. Entah bagaimana caranya, asal halal.

Sejak kecil, aku sudah menyukai Jepang karena doktrin anime yang tayang di televisi. Berbagai macam poster bintang anime aku koleksi, mulai dari Doraemon, Sailormoon, Wedding Peach, Pinky Momo, dan sederet film anime yang laris saat itu.

Sejak itu, aku mulai mencari tahu di mana negara Jepang itu, bagaimana budayanya, termasuk bahasanya. Saat masuk Sekolah Menengah Atas (SMA), aku sengaja memilih kelas bahasa dan di situ diajari Bahasa Jepang.

Tak puas sudah diajari Sensei Purbowo (guru kelas Bahasa Jepang), aku pun mengikuti kursus Bahasa Jepang di Kampus Inggris, Pare, Kediri. Kebetulan di kampung ini mayoritas pelajar belajar bahasa Inggris dan hanya satu kursusan bahasa Jepang. Aku menjadi murid bagian pertama dari tempat kursus yang bernama Nusantara tersebut.

Demi impian ke Jepang, aku pun ikut lomba bahasa Jepang di Malang saat kelas 2 SMA. Namun aku gagal. Ternyata masih banyak yang lebih pintar dari aku.

Aku tak putus asa. Sampai Sensei Purbowo menawarkan pengajuan beasiswa Monbukagakusho. Aku pun mengikuti tes pelajaran bahasa Jepang dan sempat beradu dengan kakak kelas di kelas IPA. Namun ternyata aku kembali gagal dan kakak kelaslah yang terpilih hingga ia bisa berangkat ke Jepang.

Tak berhasil di SMA, aku pun melanjutkan kuliah pariwisata di Bali. Aku berharap nanti bertemu wisatawan Jepang asli dan mampu diajak berdialog untuk memperlancar bahasaku.
Tapi lagi-lagi aku pun gagal masuk perhotelan dan lebih lolos ke hubungan masyarakat.

Impianku belum pupus. Hingga aku bekerja dan diterima di sebuah perusahaan di Jakarta, aku berkesempatan mengunjungi Pusat Informasi, Pendidikan, dan Kebudayaan Jepang (the Japan Foundation) di Gedung Summitmas.

Aku pun pernah masuk ke Gedung Kedubes Jepang di Jalan Thamrin saat perkenalan Doraemon menjadi Duta Pariwisata Jepang di Indonesia. Memasuki gedung Kedubes saja sudah kurasakan aura Jepang. Bagaimana nanti bisa ke Jepang beneran? Ah..aku hanya bisa bermimpi dulu.

HIS Amazing Sakura - Blogger Competition

Please follow and like us:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Read previous post:
Caesar, Steven, dan Rini berpose di depan Cicada Market. Foto: Didik Purwanto
Berburu Kuliner Seru di Cicada

Berkunjung ke Hua Hin, tak seru bila tak berburu makanan seru di Pasar Cicada. Pasar ini mengombinasikan budaya dan seni...

Close